Kamis, 29 Juni 2017

BMKG: cegah es Puncak Jayawijaya lenyap

id BMKG: cegah es Puncak Jayawijaya lenyap Papua
BMKG: cegah es Puncak Jayawijaya lenyap
Salah satu pemandangan Gunung Carstensz Pyramid setinggi 4.884 meter atau yang lebih dikenal dengan Puncak Jaya di Pegunungan Jayawijaya, Papua. (Foto: Antara News)
Tebal es di Puncak Jayawijaya tersisa 20,54 meter. Sejak Mei 2016 es di puncak itu menyusut 4,26 meter dari November 2015 yang disebabkan el nino kuat pada 2015/2016
Wamena (Antara Papua) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wamena, Provinsi Papua mengimbau masyarakat adat dan pelaku perekonomian ikut mencegah lenyapnya lapisan es di Puncak Jayawijaya sebab jika tidak ditangani dengan baik maka pada 2020 lapisan es akan hilang.

Kepala BMKG Wamena Benny Marlissa di Wamena, Ibu Kota Kabupaten Jayawijaya, Jumat, mengatakan penebangan hutan yang cukup tinggi berpeluang mengantar es Puncak Jayawijaya sebagai cerita sejarah.

"Melalui aktivitas yang berlangsung terus tanpa pengawasan dari pemeritah maka dampaknya lapisan es yang tebal makin menyusut. Kita lihat di Wamena penebangan di mana-mana tanpa kontrol, karena masyarakat merasa bahwa mereka punya hak ulayat," katanya.

Benny menyadari penebangan hutan didasari pemenuhan kebutuhan ekonomi. Namun ia mengharapkan adanya tindakan penanaman ulang pohon.

"Bukan hanya masyarakat adat, masyarakat pengelola ekonomi yang hanya mengejar keuntungan tanpa mempedulikan lingkungan, sebaiknya jika ada penebangan ada juga penanaman ulang," katanya.

Ia mengatakan rata-rata wilayah pegunungan Papua memiliki lapisan tanah yang sedikit dibandingkan bebatuan sehingga memerluhkan waktu yang lama untuk pertumbuhan pohon.

Sebelumnya, Kepala BMKG Pusat Andi Eka Sakya mengatakan jika tidak ditangani dengan baik maka lapisan es di Puncak Jayawijaya akan hilang pada 2020. Berdasarkan hasil observasi terakhir, November 2016 es di puncak itu menyusut 1,42 meter sejak Mei 2016.

"Tebal es di Puncak Jayawijaya tersisa 20,54 meter. Sejak Mei 2016 es di puncak itu menyusut 4,26 meter dari November 2015 yang disebabkan el nino kuat pada 2015/2016," katanya.

Dia mengatakan perlu langkah strategis dari pemerintah dan masyarakat dunia guna menekan pencairan es di Puncak Jayawijaya yang menjadi salah satu dari tiga puncak bersalju di khatulistiwa selain di Benua Afrika dan di Peru.

Langkah dimaksud adalah menghindari perilaku yang memicu pemanasan global seperti penebangan hutan liar, tingginya produksi emisi karbon. (*)

Editor: Evarianus Supar

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga