Kamis, 29 Juni 2017

Sejumlah pelajar SMP di pegunungan Papua masuk kategori ODHA

id Sejumlah pelajar SMP di pegunungan Papua masuk kategori ODHA
Sejumlah pelajar SMP di pegunungan Papua masuk kategori ODHA
Ilustrasi pengidap HIV/AIDS (Foto: Antara News)
Jangan dikira kalau anak-anak masih SMP mereka tidak akan melakukan hubungan seks, sebab yang kita temui kalau usia 15-19 tahun yang banyak mengidap HIV/AIDS adalah perempuan. Artinya yang seksual aktifnya lebih dahulu adalah perempuan.
Wamena (Antara Papua) - Sejumlah wanita yang merupakan pelajar sekolah menengah pertama (SMP) di wilayah pegunungan tengah Papua masuk kategori Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) sebab pada usia 15 tahun mereka sudah melakukan hubungan seksual.

"Jangan dikira kalau anak-anak masih SMP mereka tidak akan melakukan hubungan seks, sebab yang kita temui kalau usia 15-19 tahun yang banyak mengidap HIV/AIDS adalah perempuan. Artinya yang seksual aktifnya lebih dahulu adalah perempuan. Laki-laki jarang," kata Penanggung jawab program HIV/AIDS dan IMS Dinkes Jayawijaya Dokter Gabriel Yuristianti Andayani di Wamena, Senin.

Walau tidak menyebutkan perbandingan jumlah pengidap HIV/AIDS antara laki-laki dan perempuan pada usia 15 - 19 tahun, Gabriel mengharapkan peran orang tua dalam pencegahan penyebaran penyakit itu.

"Orang tua jangan mengabaikan anak-anak usia SMP dalam pengawasan sebab dengan adanya teknologi, pornografi yang bisa diakses di internet dapat merusak kehidupan mereka," katanya.

Sementara pada pelajar usia 19 - 24 tahun ke atas, kata Gabriel lagi, pengidap HIV/AIDS lebih didominasi oleh laki-laki.

Sebelumnya ia mengungkapkan 6.450 penduduk di wilayah pegunungan tengah Papua mengidap HIV/AIDS sehingga wajib mengonsumsi obat antiretroviral (ARV) agar bertahan hidup lebih lama.

"Jumlah penderita bisa saja bertambah sebab sebagian warga belum melakukan pemeriksaan," ujarnya.

Ia mengatakan dari jumlah itu, sebanyak 3.500 orang sudah pernah mengonsumsi obat ARV, tetapi hanya 1.100 yang rutin mengambil obat untuk dikonsumsi.

Separuh penderita HIV/AIDS yang tidak mengambil obat, bisa jadi karena bosan mengonsumsi obat setiap hari atau sudah meninggal dunia.

"Persoalan berat yang kita hadapi adalah kecenderungan masyarakat untuk tidak minum obat. Obat baru dapat diminum apabila yang bersangkutan jatuh terbaring karena sakit. Kalau masih bisa jalan, mereka tidak mau minum obat," katanya.

Dinas kesehatan setempat, menurut dia terus mencari keberadaan pasien-pasien yang tidak rutin meminum ARV dan mengajak mereka kembali mengkonsumsi obat ARV. (*)

Editor: Anwar Maga

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga